Sanggar Wayang - Kerajinan Wayang

on Jumat, 27 Februari 2009

Sebetulnya kerajinan ini sudah berdiri sejak masa nenek moyang Sabar Raharjo kemudian pada tahun 1982 Sabar Raharjo mengembangkan sendiri dengan mendirikan usaha Sanggar Wayang � SABAR � yang beralamat di Pucung, Wukirsari, Imogiri, Bantul.

Karena kesibukannya, Sabar Raharjo kemudian melibatkan Istrinya Dasiyah yang lahir di Pucung, Wukirsari, Imogiri, Bantul 16 Maret 1965 yang lalu. Awalnya kerajinan ini hanya membuat kerajinan wayang yang berbahan baku dari kulit kemudian melihat perkembangan kerajinan yang ada di Imogiri Sabar tidak hanya membuat kerajinan wayang namun berbagai jenis kerajinan kulit diantaranya Wayang, Kap Lampu, Pembatas Buku dan masih banyak kerajinan lain yang dibuatnya.

Dengan melibatkan 23 karyawan tetap dan 5 tenaga harian Sabar Raharjo sebulan mampu memproduksi 1000 pcs berbagai kerajinan, Sabar Raharjo mengambil bahan bakunya dari Jeporo dan Segoroyoso Bantul. Dan omset perbulan mencapai Rp 25 juta.

Untuk pemasaran produk kerajinannya Sabar Raharjo membuka showroom di kota-kota besar Indonesia seperti di Yogyakarta, Jakarta dan Bali kemudian akhir tahun 2004 membuka showroom di pasar Seni Gabusan Los III Kav. 26 Jl. Parangtritis Km.9 Sewon, Bantul. Disamping itu, juga pernah mengikuti pameran-pameran antara lain di Ina Craft, IKRA, JEC dan PRJ. Produk kerajinan Sabar Raharjo sudah menjual di berbagai kota besar Indonesia di antaranya Surabaya, Malang, Bandung, Jakarta dan Bali kemudian untuk pasar luar negeri Sabar Raharjo sudah menjual di Kairo Mesir dan Taiwan.

Banyusumurup - keris

Pemakaman Raja-raja Mataram di Kecamatan Imogiri memang sudah menjadi trademark Kabupaten Bantul di dunia pariwisata. Namun, selain ke makam kuno yang berlokasi di perbukitan itu, wisatawan masih dapat menikmati obyek wisata budaya yang menyimpan sejarah panjang, lebih dari 300 tahun. Yakni dusun Banyusumurup, sekitar 2 kilometer dari makam. Bila dihitung dari kota Yogyakarta, jauhnya 20 kilometer ke arah selatan.


Proses pembuatan rangka

Di dusun ini, ada sekitar 200 perajin yang trampil membuat keris. Namun, perajin sebanyak itu, hanya ada satu orang yang mampu membuat keris pusaka, yakni keris yang dapat diisi mantera-mantera dengan fungsi untuk: keselamatan, kederajatan, kewibawaan bahkan ada yang diisi anti santet. Pengisian itu sesuai permintaan calon pemiliknya. Sedang perajin lainnya hanya membuat keris untuk kepentingan seni seperti menari, musik campursari, seragam pengantin atau sekedar hiasan.

Keris siap dipasarkan

Satu-satunya perajin keris bertuah itu adalah Jiwo Dihardjo, kini berusia 68 tahun. Oleh almarhum Sri Sultan HB IX, Mbah Jiwo kemudian diberi gelar Mpu Sarjono Supo, di tahun 1982, setelah menyelesaikan pembuatan kerangka keris bertabur berlian pesanan HB IX.

Sejarah panjang dimulai ketika 300 tahun lalu, saat di Majapahit terjadi peperangan. Salah seorang ahli keris, Tomorejo namanya, melarikan diri dari Pasuruan menuju Yogyakarta dan akhirnya menetap di Banyusumurup. Mpu Sarjono Supo adalah keturunan ke 5 dari Mpu Tomo.

Harga keris bertuah dan berkualitas tinggi karya Mpu Supo berkisar antara Rp 2 juta sampai Rp 12 juta per keris. Sedang perajin lain hanya Rp 25 ribu sampai Rp 250 ribu per bilah. Kenapa perajin lain tidak membuat keris bertuah? Di samping butuh modal besar, syaratnya juga teramat berat. Di antaranya: harus jalan kaki 2 hari 2 malam terus menerus tanpa henti, tidak tidur 2 hari 2 malam terus menerus, bertapa membisu 2 hari 2 malam terus menerus. Hasilnya? Luar biasa. Mpu Sarjono berpesan, bila sedang mengisi mantera, tidak boleh di foto. Kalau melanggar? Kru salah satu stasiun televisi pusat nekat mengambil gambar. Akibatnya seluruh kamera dan lampu meledak, kerugian ditaksir Rp 20 juta. Selamat datang di Banyusumurup

Karangasem - Sentra Kerajinan Bambu


Karangasem - Sentra Kerajinan Bambu

Letak geografis Dusun Karangasem memang kurang cocok untuk pertanian. Kondisi itu tidak membuat warga daerah tersebut putus asa dan bermigrasi ke daerah lain. Justru hal itu menjadikan masyarakat Karangasem tidak mengandalkan pertanian sebagai sumber mata pencaharian. Tetapi memanfaatkan pohon bambu yang banyak tumbuh di daerahnya menjadi barang kerajinan yang mempunyai nilai seni tinggi. Dengan menjadi perajin bambu ternyata juga bisa mencukupi hidup sehari-harinya.

Proses pembuatan
Proses pembuatan

Dusun Karangasem yang terletak di Desa Muntuk, Dlingo, Bantul ini penduduknya berjumlah 220 kepala keluarga. �Hampir semua penduduk disini berprofesi sebagai perajin. Keahliannya didapatkan secara turun temurun karena sejak dulu daerah ini memang mata pencaharian utamanya sebagai perajin bambu. Bahkan anak-anak yang baru berusia 6 tahun sudah bisa menganyam.�ungkap Tukiyo yang menjabat sebagai Kepala Dusun di daerah tersebut.

Produk yang dihasilkan berupa tampah, kalo, ceting, tempat kukus kue, tempat sampah, tempat buah, place mate, dan aneka kerajinan bambu lainnya yang bentuknya unik-unik. Harga berkisar antara Rp 5.000-Rp 250.000 / biji, tergantung dengan jenis bambu yang digunakan, model dan ukuran. Perajin Karangasem menggunakan berbagai jenis bambu untuk membuat kerajinannya. Jenis bambu itu antara lain bambu apus, wulung, petung, ampel dan cendani. � Bahan baku berupa bambu biasa didapatkan di daerah Karangasem, Tangkil dan daerah sekitarnya. Karena banyak warga sini memanfaatkan lahannya yang kosong dengan menanam bambu. Tetapi kalau kita masih kekurangan bambu biasanya mengambil ke daerah Kulon Progo, Muntilan dan Purworejo�,ujar Supardiyono (38) seorang perajin bambu yang tergolong sukses itu.

Untuk wilayah nasional pemasaran kerajinan daerah Karangasem sudah mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia, terutama Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Sedangkan untuk wilayah internasional meliputi negara Amerika, Italia, Australia, Inggris, Jepang, Kanada, dan Arab. Untuk mengekspor kerajinannya, warga Karangasem berkerja sama dengan trading-trading yang banyak terdapat di daerah Bantul dan Yogyakarta.

Giriloyo - Batik tulis

Bila anda ingin melihat proses pembatikan motif klasik kraton Yogyakarta, datanglah ke Desa Giriloyo, Kecamatan Imogiri, sekitar 1 km di sebelah utara kompleks makam raja-raja Mataram. Di sana, masih tersisa sekitar 20 perajin batik yang rata-rata sudah berusia tua. �Motif-motif klasik yang masih dipertahankan antara lain motif sido asih, sido mulyo, sido mukti, sido luhur, truntum mangkoro, sri kuncoro, wahyu tumurun dan masih banyak lainnya,�tutur Bu Harti (58 tahun), koordinator perajin batik Bima Sakti, Giriloyo.

Sumiyati, pembatik tradisional
Contoh produk batik tulis Giriloyo

Komitmen untuk mempertahankan motif klasik kraton agaknya didengar oleh kerabat kasultanan. Bahkan bu Harti mendapat kepercayaan membuat kain batik untuk upacara adat kraton, yakni jumenengan (penobatan) KGPH Mangkubumi sebagai Sri Sultan HB X serta perkawinan agung rayi-rayi dalem (adik-adik Sri Sultan HB X). Pakaian kebesaran kraton yang dikerjakan bu Harti adalah kain Kampuh, panjang 5 meter, lebar 4 meter. Untuk 1 kain baru bisa selesai dikerjakan sekitar 3 bulan. Sejak 1988 sampai 1992, kraton Yogyakarta memesan kain kampuh motif semen gunung sebanyak 18 kain. Waktu itu, biaya pembuatan satu kain Rp 2 juta. Setelah tahun 1992 bu Harti terpaksa menolak pesanan kraton, karena tidak ada lagi perajin di Giriloyo yang sanggup membantu proses pembatikannya. Sementara, bu Harti sendiri penglihatannya sudah tidak jernih seperti dulu.

Pola kampuh Semen Gunung (1)
Pola kampuh Semen Gunung (2)

Ada satu peristiwa yang tak kan terlupakan sepanjang hayat. Ketika itu, seminggu setelah Sri Sultan HB IX mangkat, GBPH Prabukusumo - salah seorang putra HB IX datang menemuinya. Gusti Prabu membawa kain kampuh yang sudah koyak-koyak. Kain yang dibuat di jaman HB VII itu bekas alas peti jenazah HB IX. Gusti Prabu minta agar membuat pola dengan kertas, meniru kain kampuh tua motif semen gunung itu.

Bersama suaminya, Albani, pensiunan Brimob Kelapa Dua, bu Harti membuat coretan dengan pensil di atas kertas yang ditumpangkan pada kain yang sudah rusak itu. Tanpa ada pikiran apapun, suami isteri itu menggambar pola dengan menginjak kain itu. Sebab kalau tidak diinjak, tangannya tidak bisa menjangkau kain yang lebarnya 4 meter.

Sebelum mengakhiri pembuatan pola - setelah 3 hari dikerjakan - Pak Albani dan Bu Harti pingsan tanpa sebab. Padahal saat itu kondisi keduanya sehat wal�afiat. Orang se dusun geger. Nenek bu Harti berdoa sambil menyelipkan kalimat mohon ampun karena Albani - Harti terpaksa menginjak-injak kain disebabkan tangannya tidak mampu menjangkau sudut kain yang lain. Setelah itu, cucu dan cucu mantunya sadar dari pingsannya.GBPH Prabukusumo minta kepada bu Harti agar menyimpan dengan baik pola kampuh motif semen gunung itu. Dan wanti-wanti untuk tidak mengijinkan siapapun, termasuk kerabat kraton yang akan meminjam pola itu

Krebet - Batik media kayu

Sentra kerajinan batik media kayu di dusun Krebet secara tidak langsung telah mendukung upaya kraton Yogyakarta dalam melestarikan motif batik klasik. Kenapa demikian? Selama belasan tahun berkarya, para pengrajin di sentra kerajinan ini membatik berbagai kerajinan berbahan baku kayu dengan motif batik klasik kraton Yogyakarta. Seperti motif parangrusak, parangbarong, kawung, garuda, sidomukti, sidorahayu dan puluhan motif lain. Sedangkan produk seni berbahan kayu yang dibatik antara lain, patung, wayang, hiasan dinding.


Pilihan untuk mempertahankan produk utama dengan motif batik klasik kraton Yogyakarta itu telah menjadikan Krebet cepat dikenal di berbagai belahan dunia. Para wisatawan dapat leluasa melihat secara langsung proses pembuatan karya seni bermotif batik ini karena di Krebet terdapat 20 sanggar seni yang menampung lebih dari 400 perajin.

Bahkan wisatawan dapat bermalam di dusun yang berada di pegunungan ini karena tersedia rumah-rumah tradisional. Para pelancong juga dapat menyaksikan kehidupan khas orang desa, seperti orang memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira sebagai bahan baku gula merah. Wisatawan juga dapat menyaksikan petani yang menggarap sawah dengan cara ngluku (naik alat untuk membajak tanah ditarik sapi). Setiap bulan September pelancong dapat menyaksikan upacara ritual �Bersih Dusun� sebagai ungkapan syukur atas panen sawah ladang mereka.

Bagi para wisatawan, kunjungan ke sentra kerajinan Krebet dapat dirangkai sekaligus dengan perjalanan wisatanya ke sentra kerajinan gerabah Kasongan, sentra kerajinan tatah sunggung wayang Dusun Gendeng, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan. Bahkan dapat terus disambung ke sentra kerajinan patung primitif di dusun Pocung, desa Pendowoharjo, kecamatan Sewon.

Dusun Wisata Krebet terletak di desa Bangunjiwo, kecamatan Pajangan, berjarak sekitar 12 km arah barat daya kota Yogyakarta

Pucung - Kulit tatah sungging

Kendati berada di kawasan pegunungan di selatan Yogyakarta, Pocung dikenal luas di berbagai penjuru tanah air dan di luar negeri. Ini dikarenakan sentral kerajinan ukir kulit Pocung mendukung Kraton Yogyakarta dalam melestarikan keberadaan wayang kulit, selain produk-produk lainnya membawa unsur-unsur seni dalam ukirannya. Pocung, di kenal luas sebagai menyimpan tenaga-tenaga terampil dalam bidang tatah sungging kulit.


Dari 230 kk/ 800 orang yang menghuni dusun Karangasem, hampir 80% sebagai pengrajin. Pocung, sekitar 15 km tenggara kota Yogyakarta, dulunya ada kelurahan lama yang sekarang diganti dengan Kelurahan Wukirsari terdiri dari 4 dusun yaitu Karangasem, Dengkeng, Jatirejo,dan Karangtalon. Menurut Suyono, Ketua Paguyuban Pengrajin Kulit (Tatah Sungging) Pocung, keahlian para pengrajin di daerah ini didapat secara turun temurun dari Mbah Gembloh abdi dalem Kraton Yogyakarta. Hampir seluruh perajin tatah sungging di Pocung asli putera daerah merupakan aset mahal bagi kelangsungan Sentra Tatah Sungging di Pocung.

Setiap bulannya, pesanan yang dikerjakan perajin senilai kurang lebih Rp 100 juta pesanan dalam maupun luar negeri. Produk-produk seperti Wayang, Kap lampu, Kap lilin, Maskot, Pembatas kertas, Kaligrafi, Pigura, souvenir dipesan langsung oleh pembeli yang datang atau dititipkan pada showroom dikota-kota besar seperti Yogyakarta, Bali, Jakarta. Pembeli datang sendiri ke Pocung atau melalui telepon sebagai sarana komunikasi. Dalam hal permodalan menurut Suyono dibantu oleh BINA SWADAYA dari Banguntapan, dan pemasaran produk selama ini melalui pihak ketiga, seperti APIKRI, PT Hari Handicraft di Yogyakarta.

Wisatawan maupun pembeli yang datang ke Pocung akan melewati kawasan pedesaan asri, sebelum menuju sentra ukir kulit ini. Di sana secara langsung bisa melihat proses pengerjaan ukir kulit yang tradisional(hand made) dan berbincang-bincang dengan perajin yang akan menjawab keingintahuan pelancong. Kawasan pegunungan akan membawa perjalanan semakin menarik apalagi ditunjang jalan yang berkelak-kelok dan mulus.

Kepuasan perjalanan wisata akan tambah menarik dengan dilanjutkan ke sentra kerajinan keris di Banyusumurup; baik datang ke Mpu Supo pembuat keris bertuah atau ke pengrajin keris hiasan. Wisatawan juga dapat berziarah ke Makam Raja-raja Mataram, ziarah ke Makam Seniman, atau melakukan pengobatan Gurah (untuk membantu menjernihkan suara dan membantu menghilangkan noda-noda dalam paru-paru) yang semuanya itu terdapat di satu kawasan yaitu di kecamatan Imogiri Bantul.

Pucung - Patung primitif

Patung primitif tak hanya diproduksi Suku Asmat Papua. Perajin yang berdomisili di Kabupaten Bantul DIY pun ternyata trampil mendisain dan memahat patung primitif dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bahkan ada satu dusun, Pucung namanya, sejak 10 tahun lalu menjadi sentra kerajinan patung primitif. Patung-patung berwarna hitam dan coklat tua itu menjadi menarik karena dipahat dalam desain yang aneh-aneh. Ada patung yang matanya besar melotot, bibir tebal, postur tinggi kurus, badan bongkok sambil memeluk tifa dan sebagainya.


Bagi wisatawan yang ingin melihat secara langsung proses pemahatannya dapat berlama-lama di dusun Pucung, karena cukup banyak pengrajin yang bekerja di perusahaan-perusahaan pembuat patung primitif. Mereka ada yang mengerjakan proses pemahatan, pembakaran, pewarnaan dan penataan aksesoris seperti untuk rambut, penutup tifa dan sebagainya.


Selain berbelanja patung yang sudah tersedia di rumah-rumah produksi, wisatawan juga dapat memesan patung dengan motif sesuai selera masing-masing.

Sentra kerajinan patung primitif Pucung, cukup dekat, hanya sekitar 7 kilometer dari kota Yogyakarta ke arah selatan; masuk wilayah desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.

Bagi para wisatawan, kunjungan ke sentra kerajinan Pucung dapat dirangkai sekaligus dengan perjalanan wisatanya ke sentra kerajinan gerabah Kasongan, sentra kerajinan tatah sungging wayang Dusun Gendeng, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan. Bahkan dapat diteruskan ke sentra kerajinan batik media kayu Krebet di desa Guwosari, kecamatan Pajangan.

Kerajinan Wayang Kulit Desa Pucung

Liputan6.com, Bantul: Wayang kulit merupakan budaya turun temurun masyarakat Jawa yang hingga kini masih bertahan. Salah satu kawasan yang warganya banyak menjadi perajin wayang kulit adalah Desa Pucung, Karang Asem, Bantul, Yogyakarta. Hampir tiap warga perajin wayang kulit.

Bahan dasar membuat wayang kulit adalah kulit kambing, sapi dan kerbau. Namun warga Desa Pucung lebih banyak menggunakan bahan kulit kambing karena mudah didapat. Proses pembuatan wayang dimulai dari menjemur kulit. Setelah itu baru dipotong dan dirangkai sesuai rancangan.

Dalam pembuatannya, ada aturan yang tidak boleh dilanggar seperti pembuatan tokoh-tokoh pewayangan yang dijadikan motif wayang kulit. Sesuai perkembangan zaman, wayang kulit kini mempunyai bermacam-macam fungsi seperti untuk kipas, pembatas ruangan, hingga keranjang.

Para perajin yang merupakan binaan Dewan Kerajinan Nasional Yogyakarta ini juga membuat hiasan dinding dengan ukuran yang besar. Harga jual berkisar dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Para perajin berharap produk mereka bisa menembus pasar luar negeri.