Batik Tulis Girisari Girirejo, Awet dan Berseni Tinggi

on Kamis, 26 Februari 2009

Batik Tulis Girisari Girirejo, Awet dan Berseni Tinggi
03/11/2006 10:22

Pada sebuah acara kawinan, mempelai wanita mengenakan kain batik sidomukti, sedangkan orangtua mempelai mengenakan batik motif truntum. Kemudian pada upacara mitoni, si calon ibu tampil berbalut kebaya dengan motif asih.

Walau tampaknya sederhana, kain batik di Jawa mempunyai perannya masing-masing. Termasuk di Jogja saat ini yang masih kental dengan upacara-upacara adatnya. Dalam upacara tersebut, pakaian yang tidak pernah absentadalah batik. Batik dipakai sebagai pasangan kebaya, atau kalau yang lebih modern, kain batik disulap menjadi kemeja dan kebaya. Jogja juga menjadi surganya kerajinan batik

Memperhatikan tiap ukiran motif-motif batik, tentu kita penasaran, bagaimana membuatnya hingga menjadi lembaran kain batik tersebut. Batik sendiri sekarang tersedia dalam berbagai macam dilihat dari pembuatannya. Batik tulis, batik printing, dan batik cap. Tentu saja kualitas terbaik ada pada batik tulis. Batik yang proses dibuat secara tradisional ini jelas mempunyai seni yang tinggi. Memerlukan waktu yang lama untuk bisa mengerjakannya. Serta butuh perhatian tinggi untuk membatiknya dengan malam.

Imogiri yang kaya akan kerajinan batik tulisnya memang menyediakan banyak alternatif. Satu yang menjadi pilihan di Imogiri adalah koleksi batik tulis di Batik Girisari Girirejo. Kios batik yang dikelola oleh Bapak Slamet (46) ini menyediakan banyak pilihan kain batik tulis, terutama kain batik soga Jogja.

Bapak 2 anak ini memulai karirnya ketika masih kecil ia sudah menyukai dunia per-batikan. Ia mulai dengan belajar membatik, dan banyak mengikuti kursus-kursus batik. Awalnya ia hanya pembatik pada sebuah kios milik orang lain. Pada tahun 1985, ia bersama teman-temannya memutuskan untuk bekerja sama mendirikan kios sendiri yang menjual kain hasil karya sendiri. Hingga saat ini ia bersama 20 orang pembatik lainnya-lah yang menjadi produsen di Batik Girisari Girirejo ini.

Menurut Bapak Slamet, satu keunggulan batik tulis dibanding batik printing dan cetak adalah keawetannya, karena warna tidak cepat pudar seperti jenis lainnya. ditambahkannya lagi, dalam setiap upacara dan perayaan adat, orang akan lebih mantap dengan memakai kain dengan batik tulis. "Ini lebih pada kepercayaan dan sugesti yang dirasakan," tambahnya.

Untuk harga, sebuah kain batik tulis dihargai dari tingkat kesulitan dan detail motif lukisannya serta jenis kainnya. Di kios ini, sebuah kain batik semisal motif pringgodani, asih, dan prabu anom yang tingkat detailnya rumit, dihargai Rp 1.000.000,- sampai Rp 2.000.000,-. Namun harga ini sebanding dengan nilai seni yang didapat dari kain batik tersebut. Per lembarnya bisa dibuat hingga memakan 2 bulan waktu pengerjaan. Sedangkan untuk batik tulis lainnya, harga berkisar Rp 100.000,- ke atas.

Dari jenis kain, kios ini menawarkan kain dengan bahan sutra, prima, dan primisima. Meskipun mengandalkan batik tulis, tapi di kios ini juga ditawarkan sedikit batik printing dan batik cap yang harganya memang jauh lebih murah dibanding batik tulis. Juga ada batik modern, dengan motif yang banyak dimodifikasi dan dengan warna sintetis yang lebih beragam

Sempat kios ini menawarkan kemeja-kemeja batik jadi, namun menurut Bapak Slamet, kemeja pasarnya lebih susah. Akhirnya Bapak Slamet kembali berfokus pada kain batik tulisnya. Hingga kini, yang banyak disayangkan adalah kain batik yang penggunannya semakin berkurang. Ini disebabkan antara lain masyarakat menganggap mengenakan batik terkesan ribet, dan kesan etniknya terlalu kuat sehingga hanya cocok dipakai pada event tertentu saja. Padahal sekarang batik telah dimodifikasi sedemikian rupa agar masyarakat lebih menyukainya.

Batik Girisari Girirejo beralamat di Pajimatan RT/RW D5/6 Girirejo, Imogiri, Bantul. Juga bisa ditemui di Pasar Seni Gabusan Los4/Kav.1. Untuk menjaga keawetan kain batik, diperlukan perawatan yang khusus untuk kain batik. Tidak rumit, cukup dicuci biasa dan diangin-anginkan tanpa sinar matahari yang keras. Nah, kalau sudah beli batik, ayo berangkat ke kondangan.

Mari Mengenal Batik: Pudarnya Pemaknaan Motif Batik


Berbicara soal batik memang selalu identik dengan masyarakat Jawa. Hal ini tentunya tak lepas dari adanya motif atau gambar pada kain yang berasal dari kerajaan di wilayah Jawa. Namun barangkali tak banyak orang (terutama kaum muda) yang mengetahui bagaimana asal muasal adanya batik ini. Apalagi mengenal lebih jauh mengenai berbagai jenis motif dan juga filosofinya.

Untuk itu, dengan tuntunan seorang kurator museum batik saya akan mengajak Anda untuk sedikit mengupas aneka motif tradisional yang sampai dengan saat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat jawa tersebut. "Sebenarnya batik mulai dikenal masyarakat karena aturan dari raja yang dianggap sebagai wakil dewa pada masa 1927-an," ungkap Drs. Bejo Haryono alias Pak Bejo memulai obrolan tentang batik.

"Kalau berbicara soal motif, sangat luas. Karena kita berpacu pada beberapa sumber yang harus kita ungkap." Misalnya saja Sewan Soesanto, ia membagi batik dalam sembilan kelompok berdasarkan nama, yakni lereng, semen, parang, truntum, kawung, gringsing, ceplok, nitik, motif pinggiran, dan terang bulan. Sementara berdasarkan balai penelitian batik, motif itu terbagi menjadi tiga kelompok, motif figuratif, semi figuratif, dan non figuratif. Pengelompokan yang lain adalah berdasarkan warna, yakni bambangan (merah), bangjo (merah-hijau), dan kelengan (ungu). Sebagian lagi mengelompokkan batik berdasarkan pembatiknya sendiri seperti, Wan Tirto dan Harjo Negoro.

"Namun secara umum batik terbagi dua macam, yakni geometris dan non geometris. Ini menurut Vanderhoop," sambung bapak dua anak ini. Motif geometris atau yang berdasarkan ilmu ukur dapat kita lihat pada batik yang gambarnya garis-garis seperti kawung, parang, dan panji. "Secara filosofi, batik ini menggambarkan adanya birokrasi pada pemerintahan. Ada keteraturan dari raja sampai dengan rakyat, atau istilahnya manunggaling kawula gusti."

Sementara motif non geometris yang lebih bebas dapat ditemukan pada batik semen, atau yang bergambar binatang, tanaman, hutan, dan sejenisnya. "Ya, itu menggambarkan kehidupan semen, yakni kehidupan yang semi. Semi itu tumbuh, tumbuh itu berkembang. Nah, orang yang memakai batik ini mempunyai harapan bahwa dalam kehidupannya akan tercukupi dengan sandang, pangan, dan papan," lanjut cerita Pak Bejo sembari menunggu museum yang sepi pengunjung.

"Dalam perkembangannya, orang memakai batik bukan karena makna atau filosofinya, namun lebih pada kepantasan atau keindahan saja." Ketidakteraturan tersebut terlihat dari banyaknya anak-anak muda sekarang memakai batik parang dan kawung. Padahal sebenarnya batik motif ini tidak boleh dipakai masyarakat umum, karena hanya diperuntukkan bagi kerabat kraton. "Parang itu hanya untuk raja. Ini mengacu pada hukum adat yang memang tidak tertulis," jelasnya lagi.

Ini bukan mutlak kesalahan dari para generasi muda. Karena, bahkan di lingkungan kraton yang merupakan akar tumbuhnya batik pun pemaknaan ini mulai memudar. Walaupun memang masih ada pemakaian berdasarkan penggolongan itu, tapi tetap ada pemudaran. "Padahal kalau ditinjau dari sejarah, batik ini kan muncul dan berawal dari kerjaan sampingan para selir yang jenuh karena menunggu kunjungan sang raja. Setelah itu baru dikembangkan oleh para seniman kerajaan dan disebarkan oleh para saudagar. Batik saudagaran inilah yang ditiru pabrik dan kemudian menyebar di masyarakat," ungkap bapak kelahiran 1948 ini